Selasa, 25 September 2018

Tips PR Writing

Jika setiap profesional PR di dunia menjejalkan diri ke dalam arena konferensi, ruangan itu akan dipenuhi dengan individu yang didorong, kreatif, berorientasi pada detail, berkulit tebal. Tidaklah mengherankan bahwa pikiran paling cerdas di industri memiliki sifat yang sama, tetapi ada satu keterampilan yang sering diabaikan yang kebanyakan orang anggap biasa. Jika semua orang di ruang konferensi itu diberi pulpen dan diminta menulis, tidak diragukan lagi mereka bisa melakukannya ... tetapi apakah mereka semua akan efektif?

Menulis cerdas adalah alat profesional PR yang paling penting. Diperlukan praktik sadar untuk membuat pesan yang paling efektif, meskipun hanya email satu-kali ke klien - dan selalu ada ruang untuk peningkatan. Berikut tiga kiat untuk tetap tajam:

1. BACA SEMUA.
Salah satu kutipan favorit saya adalah ini: “Jangan mengolok-olok seseorang jika mereka salah mengucapkan sepatah kata. Itu berarti mereka mempelajarinya dengan membaca. ”Ini diterjemahkan menjadi lebih dari kata-kata. Jika Anda tidak membaca, Anda kehilangan dunia konten yang dapat dimanfaatkan untuk brainstorms, bylines, atau pitch yang sempurna. Mulailah dengan memindai berita setiap pagi dari ponsel cerdas Anda dan menelan setiap artikel yang Anda lihat, bahkan di luar vertikal Anda. Kemudian, buatlah gol untuk membaca setidaknya satu bab buku semalam sebelum Anda tidur. Tidak hanya mengurangi stres (sebanyak 68 persen!), Ini juga dapat mempermudah Anda untuk berempati dengan orang lain, menurut penelitian dari Science. Siapa yang tidak ingin meningkatkan kekuatan super membaca pikiran mereka untuk membantu meringankan klien dan media?

2. MULAI DENGAN HAL KECIL.
Mengedit seluruh siaran pers mungkin tampak menakutkan, tetapi mengedit Tweet? Kurang begitu - meskipun saya tidak mengetuk tantangan untuk memotong pemikiran Anda menjadi 140 karakter! Bila Anda memiliki waktu luang, cobalah berlatih tata bahasa Anda dalam potongan kecil, seperti pada email klien. Kembali, baca ulang, dan potong. Apakah Anda menggunakan klise? Apakah Anda berbicara dengan suara aktif?

3. BERIKAN SUARA.
Setiap orang memiliki suara mereka sendiri, dan tulisan mereka juga harus demikian. Ini sangat penting ketika ghostwriting untuk pihak lain. Berapa kali Anda menulis kolom tamu untuk klien, hanya untuk meminta mereka mengirimnya kembali dalam red edits? Anggaplah diri Anda beruntung jika ini terjadi - ini adalah kesempatan sempurna untuk mempelajari nuansa antara suara Anda sendiri dan orang lain. Pada panggilan klien, dengarkan dengan saksama saat pemimpin pemikiran Anda berbicara. Tidak mudah untuk menyalurkan kepribadian individu lain saat menulis atas nama mereka, tetapi jika Anda menaklukkan tantangan, itu akan meningkatkan pembacaan artikel. Lain kali, ambil masuki konferensi dan baca  keras-keras. Jika terdengar alami, itu akan beresonansi dengan pembaca.

Keterampilan menulis yang tajam tidak bisa dianggap remeh. Kebanyakan perekrut menginginkan pencari kerja dengan keterampilan komunikasi yang sangat baik, tetapi yang mengejutkan, itu adalah kualitas yang sulit dipahami. Untungnya, ini memberi Anda kesempatan yang lebih baik untuk memamerkan kecerdasan Anda. Untuk berada di bagian atas game PR Anda, penting untuk memahat tulisan Anda - ini adalah alat emas di setiap langkah dari saluran, dari email ke artikel.

Credit: https://www.shiftcomm.com/blog/writing-101-for-pr-pros/

Selasa, 15 November 2016

Melvin l. defleur

Profil Singkat

DeFleur menerima gelar Ph.D. dalam psikologi sosial dari Universitas Washington pada tahun 1954. Tesisnya, studi eksperimental hubungan stimulus respon dalam komunikasi leaflet, ditarik dari sosiologi, psikologi, dan komunikasi, untuk mempelajari bagaimana informasi disebarkan melalui masyarakat Amerika.

Dia telah mengajar di Indiana University (1954-1963), University of Kentucky (1963-1967), Washington State University  (1967-1976), University of New Mexico (1976-1980), University of Miami (1981-1985 ), Syracuse University (1987-1994) dan University of Washington sebelum mengambil posisi saat ini sebagai profesor komunikasi di Boston University Departemen komunikasi Massa, Periklanan dan Hubungan Masyarakat. Selain itu, ia adalah seorang Profesor Fulbright untuk Argentina dua kali dan berafiliasi dengan Argentina Sociological Society dan Ibero-Interamerican sosiologis Society, yang ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.

Teori Melvin De Fleur
Teori ini menggambarkan teori komunikasi antar pribadi yang merupakan perluasan dari model-model Shannon dan Weaver, dengan cara memasukan perangkat media massa dan perangkat umpan balik. Sumber (source), pemancar (transmitter), penerima (receiver) dan sasaran (destination) sebagai fase-fase terpisah dalam proses komunikasi massa.

Teori De Fleur terhadap Hubungan Sosial :
Menurut De Fleur, hubungan sosial secara informal berperan penting dalam merubah perilaku seseorang ketika diterpa pesan komunikasi massa. Pesan disampaikan melalui perantara (tidak langsung) atau opinion leader. Opinion leader adalah orang yang secara informal dapat mempengaruhi tindakan atau sikap orang lain, baik bagi mereka yang sedang mencari informasi (opinion seeker) atau yang sekedar menerima informasi (opinion recipient). Padahal pesan-pesan komunikasi massa lebih banyak diterima individu lewat hubungan personal dibanding langsung dari media massa.

Wilbur Schramm Lang

Profil Singkat

Schramm lahir di Marietta, terletak di batas selatan Ohio pada tanggal 5 Agustus 1907 dan wafat di Honolulu, Hawaii pada tanggal 27 Desember 1987 silam. Schramm pernah menjadi pimpinan The Iowa Writer’s Workshop, bekerja di firm Harcourt Brace dan membantu di federal war information agencies. Beliau memimpin School of Journalism di Iowa (1943-1947). Kemudian menjadi pimpinan program kajian komunikasi massa di Universitas Illinois, Universitas Stanford dan the East-West Center, Universitas Hawaii. Ia memiliki pengaruh besar pada perkembangan penelitian komunikasi di Amerika Serikat, dan membangun departemen studi komunikasi di universitas di AS. Schramm lahir di Marietta, Ohio. Setelah bekerja untuk Associated Press, ia menerima gelar MA dalam peradaban Amerika di Harvard University dan Ph.D dalam bahasa Inggris di University of Iowa, di mana ia akhirnya mendirikan lokakarya menulis kreatif.

Model Schramm
            
Wilbur Schramm membuat serangkaian model komunikasi mulai dari model yang sederhana, kemudian model yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu (Mulyana, 2003). Schramm menyatakan bahwa komunikasi senantiasa membutuhkan tiga unsure yaitu: sumber (source), pesan (message) dan sasaran (destination)

Model sederhana Schramm:
Sumber dan encoder adalah satu orang, sedangkan decoder dan sasaran adalah seseorang lainnya, dan sinyalnya adalah bahasa.

Model Schramm yang memperhitungkan pengalaman dua orang.
Sumber dapat menyandi dan sasaran dapat menyandi balik pesan, berdasarkan pengalaman masing-masing. Bila kedua lingkaran memiliki persamaan yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan. Semakin besar wilayah tersebut, semakin miriplah bidang pengalaman (field of experience) yang dimiliki kedua pihak yang berkomunikasi. Bila kedua lingkaran pengalaman tidak bertemu, maka komunikasi tidak mungkin berlangsung. Bila wilayah yang berimpit kecil, artinya pengalaman sumber dan pengalaman sasaran jauh berbeda, maka sangat sulit menyapaikan makna dari seseorang ke orang lain (Mulyana, 2003)

Model komunikasi unpan balik sebagai 'lingkaran' yang berkelanjutan untuk berbagi informasi. 

Model ini merupakan penyempurnaan model Schram sebelumnya yang menempatkan pentingnya umpan balik. Dalam proses komunikasi, setiap orang sekaligus sebagai enkoder maupun decoder yang secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali dalam model lingkaran disebut umpan balik (feed back).

George Gerbner

Profil Singkat


Lahir di Budapest, Hungaria, ia beremigrasi ke Amerika Serikat pada akhir 1939. Gerbner meraih gelar sarjana dalam jurnalisme dari Universitas California, Berkeley pada tahun 1942. Dia bekerja sebentar untuk San Francisco Chronicle sebagai penulis, kolumnis dan editor keuangan asisten . Ia bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 1943, dan kemudian Office of Strategic Services sementara melayani, dan menerima Bronze Star. Gerbner diberhentikan dengan hormat sebagai Letnan Pertama. Setelah perang ia bekerja sebagai penulis lepas dan humas dan mengajar jurnalisme di El Camino College sambil mendapatkan master (1951) dan doktor (1955) dalam komunikasi di University of Southern California. disertasinya, "Toward a General Theory of Communication," memenangkan penghargaan USC untuk "disertasi terbaik."

Konsep Dasar Teori Kultivasi
Pada dasarnya, Teori Kultivasi pertama kali di kemukakan oleh George Gerbner bersama rekan-rekannya di Amenberg School of Communication di Pennsylvania pada tahun 1969, dalam sebuah artikel yang berjudul “the television of violence” yang berisikan bagaimana media massa khususnya televisi menampilkan adegan-adegan kekerasan di dalamnya. Teori kultivasi ini muncul dalam situasi pada saat terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini bahwa efek sangat kuat dari media massa.

Teori Kultivasi muncul untuk meyakinkan orang bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social budaya ketimbang individual. Signorielli dan Morgan pada tahun 1990 mengemukakan bahwa analisis kultivasi merupakan tahapan lanjutan dari penelitian efek media yang sebelumnya dilakukan Gerbner yaitu “Cultural Indicator” yang menyelidiki Proses institusional dalam produksi isi media, image atau kesan isi media serta hubungan antara terpaan pesan televisi dengan keyakinan dan perilaku khalayak.

Dalam penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Gerbner diketahui bahwa penonton Televisi dalam kategori berat mengembangkan keyakinan yang berlebihan mengenai dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. Sedangkan kekerasan yang mereka saksikan di Televisi menambah ketakutan sosial yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat dipercaya.

Kajian Teori Kultivasi
Teori Kultivasi menganalisis tayangan televisi telah menjadi teman keseharian oleh kebanyakan orang dalam keluarga di amerika serikat, karena Teori ini memprediksikan dan menjelaskan pembentukan persepsi, pemahaman, dan keyakinan jangka panjang tentang dunia ini sebagai hasil dari mengkonsumsi isi media. Gerbner (1999) mengemukakan bahwa “sebagian besar yang kita ketahui, atau yang kita piker kita ketahui, adalah tidak pernah kita alami sendiri”. Banyak hal yang kita ketahui itu karena yang kita lihat dan kita dengar dari media. Teori Kultivasi terus mengalami evolisi bertahun-tahun lamanya, melalui serangkaian metode dan teori yang dilakukan oleh Gerbner dan rekan-rekannya.

Asumsi Dasar Teori Kultivasi
Terdapat tiga asumsi dasar teori kultivasi yang dikemukakan oleh Gerbner yaitu : 1). Secara Esensial dan Fundamental Televisi berbeda dengan media yang lain. Asumsi ini menunjukkan bahwa spesifikasi keunikan dari Televisi yaitu kelebihan Televisi menjadikannya istimewa seperti televise tidak memerlukan sederetan huruf-huruf seperti halnya media cetak lainnya, televisi bersifat audio dan visual yang dapat dilihat gambar dan suaranya, Televisi tidak memerlukan Mobilitas atau memutar tayangan yang disenangi dan karena aksesibilitas dan avaibilitasnya untuk setiap orang membuat Televisi menjadi pusat kebudayaan masyarakat kita. 2). Televisi Membentuk Cara kita berfikir dan berhubungan. Asumsi ini masih berkaitan dengan pengaruh tayangan Televisi, pada dasarnya Televisi tidak membujuk kita untuk benar-benar meyakini apa yang kita lihat di Televisi, berdasarkan asumsi ini, Teori Kultivasi mensuplay alternative berfikir tentang tayangan kekerasan di Televisi. 3). Televisi Hanya Memberii Sedikit Dampak. Asumsi yang terakhir ini mungkin agak berbeda dengan asumsi dasar Teori Kultivasi, namun Gerbner memberiikan analogi ice age untuk memberi jarak antara teori kultivasi dan asumsi bahwa Televisi hanya memberikan sedikit efek atau dampak. Dalam analogi ice age menganggap bahwa Televisi tidak harus mempunyai dampak tunggal saja akan tetapi mempengaruhi penontonnya melalui dampak kecil yang tetap konstan.


J. Habermas Juergen.

Profil Singkat

Habermas merupakan filsuf dan ahli teori sosial dari Jerman. Habermas menawarkan pendekatan yang rasional dalam menentukan hal yang baik dan yang salah. Habermas merupakan tokoh kontemporer dari Frankurt School yang melahirkan Theory of Universal Pragmatics dan The Transformation of Society. Habermas juga terkenal dengan Technological Determinism-nya, yaitu pendekatan yang menyatakan bahwa teknologi adalah salah satu faktor terpenting penyebab perubahan sosial.

Terori Habernas

Habermas mengatakan bahwa masyarakat harus dipahami sebagai perpaduan tiga kepentingan utama : kerja, interaksi dan kekuasaan.  Ketiga kepentingan itu sama-sama penting. Kerja, sebagai kepentingan pertama, meliputi kemampuan menghasilkan sumberdaya material. Karena sifatnya yang highly instrumental nature — yang hasilnya adalah objek-objek konkrit, maka kerja pada dasarnya adalah “technical interest”, kepentingan teknis.  Di dalamnya berlaku rasionalisasi instrumental dan diwakili oleh ilmuwan empiris-analitis.  Dengan kata lain, teknologi digunakan  sebagai alat guna mencapai tujuan praktis dan itu diasarkan pada riset ilmiah.  Misalnya desainer  komputer , pembangun jembatan, para ahli yang menempatkan satelite di dalam orbitnya, pelaku organisasi/ kementerian, dan para ahli dengan kemampuan penanganan medis.

Kepentingan utama kedua adalah interaksi, atau penggunaan bahasa dan sistim simbol komunikasi lainnya.  Karena kerjasama sosial merupakan suatu keharusan untuk bisa bertahan hidup, Habermas menyebut item yang kedua ini sebagai “practical interest” atau kepentingan praksis. Ini mencakup rasionalisasi praksis dan diwakili oleh ilmu pengetahuan historis dan hermeneutik.  Kepentingan interaksi dapat dilihat dalam berbagai pidato, konferensi, psychoteraphy, hubungan antarkeluarga, dan segala bentuk usaha kerjasama.


Kepentingan utama yang ketiga adalah power, atau kekuasaan.  Tatanan sosial biasanya mengarahkan pada pembagian kekuasaan, namun kita juga berkepentingan untuk terbebas dari dominasi. Kekuasaan cenderung mendistorsi komunikasi, namun dengan kesadaran akan ideologi yang mendominasi di dalam masyarakat, kelompok-kelompok bisa memberdayakan mereka sendiri menuju transformasi sosial.  Akibatnya, kekuasaan menjadi “kepentingan emansipatory”.  Rasionalisasi  yang terjadi dalam kepentingankekuasaan ini berupa ‘self-reflection’ dan jenis ilmu pengetahuan  yang berkaitan dengan hal ini adalah  critical theory. Menurut Habermas, jenis pekerjaan yang dilakukan oleh teoritisi kritis yang selanjutnya akan didiskusikan dalam bahasan nanti termasuk emancipatory  karena ia bisa memberdayakan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki kekuasaan.

Carl Hovland

Profil Singkat

Hovland lahir di Chicago, 12 Juni 1912. Memasuki Universitas Nothwestern sampai tingkat master. Ia melanjutkan ke program doktor pada Program Psikologi di Universitas Yale karena tertarik pada Clark Hull, seorang akademisi yang beraliran behaviorisme. Kepribadian Hovland sangat menarik. Dia seorang pendengar yang baik, pendiam, dan sedikit berbicara, tetapi dengan kemampuan luar biasa
Hovland diakui sangat jenius dan produktif. Dia dapat melakukan pekerjaan yang kompleks sekaligus, seperti mengedit naskah, berbicara lewat telepon, dan memasang slide. Pendekatan Hovland seringkali cenderung elektik yakni memakai banyak pendekatan daripada satu perspektif. Ujung karier Hovland adalah ketika dia diketahui menderita kanker dan meninggal. Hovland sebagaimana Laswell merupakan staff pengajar di Yale University yang tergolong universitas elit di Amerika. Penelitian Hovland tentang persuasi secara tidak langsung banyak dipengaruhi oleh teori-teori yang dikembangkan Freud. Hovland dikenal dengan penelitian-penelitian tentang persuasi dengan metode eksperimen. Karya penelitian Hovland diantaranya adalah tentang dampak film bagi pembangunan moral prajurit dalam manghadapi Perang Dunia II.

Teori perubahan sikap ( attitude change theory )

Menurut Carl Hovland, teori perubahan sikap ( attitude change theory ) memberikan penjelasan bagaimana sikap seseorang terbentuk dan bagaimana sikap seseorang itu dapat berubah melalui proses komunikasi dan bagaimana sikap itu dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Dalam teori perubahan sikap ( attitude change theory ) menyatakan bahwa seseorang akan mengalami proses ketidaknyamanan di dalam dirinya  bila dihadapkan pada sesuatu yang baru yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga membutuhkan waktu untuk menganalisa sehingga sampai pada sebuah keyakinan untuk mengambilnya atau tidak sesuai dengan tabiatnya.

Dalam upaya mengurangi ketidaknyamanan tersebut, seseorang secara otomatis akan melakukan tiga proses selektif yaitu:

Penerimaan Informasi Selektif
Merupakan proses dimana orang hanya akan menerima informasi yang sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimilikinya.

Ingatan Selektif
Ingatan selektif mengasumsikan orang tidak mudah lupa atau sangat mengingat pesan yang sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimiliknya.

Persepsi Selektif

Orang akan memberikan interpretasinya terhadap setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang sudah dimilikinya.

Robert K. Merton

Profil Singkat

Merton lahir sebagai anak imigran dari sebuah daerah kumuh di Philadelphia Utara. Merton memperoleh gelar BA dari Universitas Temple pada Program Sosiologi. Selama 3 tahun Merton mengajar kemudian menjadi associate professor, selanjutnya menjadi profesor serta pimpinan pada Departemen Sosiologi di Tulane University hingga dipanggil Universitas Colombia pada tahun 1941
. Melalui tulisannya di tahun 1938 yang berjudul Social Structure and Anomie, mengantarkan Merton menjadi ahli teori sosial muda. Menurut Merton, baik kesesuaian (conformity) maupun penyimpangan (deviation) sama-sama produk dari struktur sosial. Merton dikenal sebagai intelektual perkotaan yang sangat dihargai karena pilihan kata-katanya, baik dalam tulisan maupun pembicaraan. Lazarsfeld sangat menghargainya dan menyebutnya sebagai “tuan sosiologi negeri ini (Amerika)”. Merton juga seorang sarjana komunikasi massa. Merton mengkaji bersama-sama dengan Fiske dan Curtis tentang jarinagn radio CBS. Merton merupakan pengajar di Universitas Columbia dalam kurun waktu 35 tahun bersama dengan Lazarsfeld. Merton dikenal sebagai ahli ilmu sosial, sedangkan Lazarsfeld sebagai ahli metode penelitian kuantitatif yang mempelajari dampak komunikasi. Keberadaan dua figur ini di tahun 1941 ikut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi merosotnya pamor Chicago School. Pada tahun 1943 Merton menjadi Direktur Pembantu di Bureau of Applied Social Research yang dipimpin Lazarsfeld di Columbia University. Salah satu jasa penting Merton adalah kecenderungan Merton membawa middle range theory dalam kajian komunikasi. Karya Merton yang terkenal adalah Social Theory and Social Structure (1949).

Teori Struktural Fungsional

Fungsionalis Struktural Robert K. Merton dapat diidentifikasikan dengan penelitiannya pada masyarakat Amerika Serikat, kelahiran teori sosial Merton berkaitan dengan situasi politik, ekonomi dan budaya dimana konteks teori sosial itu berada ditengah masyarakat. Merton berargumen bahwa fokus dari fungsionalis struktural harus diarahkan pada fungsi-fungsi sosial, yang menurut Merto, fungsi didefinisikan sebagai “konsekuensi-konsekuensi yang disadari dan yang menciptakan adaptasi atau penesuaian sistem sosial” (1949/1968: 105). Akan tetapi terdapat bias ideologi jika orang hanya memusatkan perhatiannya pada adaptasi atau penyesuaian, karena adanya konsekuensi positif, dan perlu kita ketahui bahwa fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain.
Untuk mensintesiskannya, maka Merton mengembangkan gagasannya mengenai disfungsi. Seperti halnya pada penelitian Merton mengenai Perbudakan di Amerika Serikat , yang berpendapat bahwa di Amerika Serikat belahan selatan perbudakan itu mengandung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lainnya. Namun, bagi orang kulit putih di bagian Amerika Serikat belahan selatan justru mengandung konsekuensi positif karena tersedianya tenaga kerja murah, dukungan bagi ekonomi kapas dan status sosial. Ini mengandung disfungsi, misalnya membuat warga selatan terlalu tergantung pada ekonomi pertanian dan dengan demikian masyarakat tidak siap enghadapi industrialisasi.
Setelah Merton memaparkan tentang disfungsi, kini ia telah mengemukakan gagasannya tentang nonfungsi, yang didefinisikan sebagai konsekuensi yang tidak relevan bagi sistem tersebut. termasuk di dalamnya adalah bentuk-bentuk sosial yang “masih bertahan” sejak masa awal sejarah, entah itu mengandung konsekuensi positif maupun negatif masa lalu, tidak adanya efek yang signifikan bagi masyarakat sekarang.
Merton mengembangkan konsep keseimbangan mapan, untuk menjawab pertanyaan lebih penting manakah fungsi-fungsi positif atau negatif. Ia juga menambahkan gagasan, pasti ada level analisis fungsional, bahwa analisis dapat juga dilakukan terhadap organisasi, institusi atau kelompok.
Merton menjelaskan bahwa di dalam keseimbangan mapan, perbudakan itu sifatnya fungsional bagi unit-unit sosial tertentu, dan juga disfungsional bagi unit-unit sosial lain.
Konsep fungsi manifes dan fungsi laten dan mengarah pada konsep lainnya yaitu konsekuensi yang tidak terantisipasi. Menurut Merton, fungsi manifes pada perbudakan di Amerika Serikat, misalnya meningkatkan produktivitas ekonomi kawasan Selatan. Dan fungsi latennya yaitu adanya peningkatan status sosial warga kulit putih di Selatan karena terlalu banyak penghasil kelas budak.
Merton menjelaskan bahwa konsekuensi yang tidak diantisipasi itu tidaklah sama dengan fungsi laten, karena fungsi laten merupakan suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi dan sesuatu yang fungsional bagi sistem yang dirancang. Ada dua jenis konsekuensi tidak terantisipasi, yakni “hal-hal yang disfungsional bagi sistem yang telah ada dan itu mencakup disfungsi laten” dan “hal-hal yang tidak relevan dengan sistem yang mereka pengaruhi secara fungsioanl ataupun disfungsional…konsekuensi-konsekuensi nonfungsional” (Merton, 1949/1968: 105).
Sementara itu, adanya diskriminasi terhadap kulit hitam, perempuan, dan kelompok minoritas lain merupakan disfungsi bagi masyarakat Amerika Serikat. Akan tetapi, hal ini juga mempengaruhi pihak-pihak yang melakukan diskriminasi dengan memberikan terlalu banyak orang yang berada dibawah perlindungan ketat dan meningkatnya konflik sosial. Dari kondisi ini, klasifikasi teori fungsional dapat mengarah pada suatu struktur yang disfungsional bagi sistem secara keseluruhan dan mungkin terus berlangsung. Namun, tidak semuanya struktur sosial itu tidak dapat diubah oleh sistem sosial, serta fungsionalisme itu membuka jalan bagi perubahan sosial penuh makna.
Analisis Merton mengenai hubungan antara kebudayaan, struktur dan anomi yakni ketidakmampuan bertindak menurut nilai-nilai normatif karena posisinya berada dalam struktur sosial masyarakat, serta kebudayaan menghendaki adanya beberapa jenis perilaku yang dicegah oleh struktur sosial.
Dalam hal ini, Merton lebih terfokuskan pada disfungsi, yaitu anomi. Ia menghubungkan anomi dengan penyimpangan, dan berpendapat bahwa disjungsi antara kebudayaan dengan struktur akan melahirkan konsekuensi disfungsional yaitu munculnya penyimpangan dalam masyarakat.